Jumat, 09 Januari 2009

Indonesia Dan Teknologi Informasi

Ada pendapat optimis yang menerawang ke depan seolah nubuatan bahwa industri TI akan marak karena sumberdaya kita yang tumpah-ruah, terutama manusianya, akan mampu mendukung perkembangan yang sustainable. Struktur permodalan dalam tata-niaga negara berkembang dan tatanan hukum serta regulasi yang diperlukan dibahas oleh para panelis, walaupun terbatas.

Pendapat yang lain lebih merupakan wanti-wanti bahwa pemanfaatan TI akan menimbulkan keterbiasaan yang seolah candu akan memagari kita setelah melampaui sejumlah titik-mustahil-balik (points of no-return). Semakin jauh kita terbiasa menggunakan TI, semakin sulit pula untuk kembali ke pola hidup semula yang mungkin lebih sederhana. Pendek kata, pluralisme sosial akan semakin bias ke sisi pola hidup dengan TI sebagai pemberdaya.

Ada pula opini yang menyatakan bahwa TI adalah sebuah teknologi yang ikut memanusiawikan manusia: mendorong hidup kita dari otot ke otak, dari industri mekanistis ke ekonomi informasi, dan dari raga-fisik ke abstraksi-kreatif yang sarat akan nilai-tambah. Ia akan membuat jarak menjadi hilang-makna, dan waktu menjadi nyaris satu-satunya besaran yang dominan setelah massa mulai ikut surut ke latar-belakang karena semakin menjadi kurang penting.

Banyak sudah yang terjadi dalam 2 dasawarsa setelah diskusi panel tersebut. Beberapa prediksi ternyata tidak/belum terjadi, sementara sisanya sudah/telah terpenuhi dengan kadar intensitas yang berbeda. Namun yang penting adalah bahwa TI di Indonesia berkembang menurut 2 kategori besar: sebagai komoditas dalam tata-niaganya dan sebagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Walaupun ada keterkaitannya, kedua kategori tersebut cukup distinct. Tata-niaga TI sebuah negara bisa saja maju sekali, namun tidak ada pengembangan Iptek TI yang berarti yang dihasilkan di negara tersebut. Sebaliknya, mungkin ada negara lain yang rajin sekali mengembangkan Iptek TI akan tetapi kalah dalam aspek pengembangan tata-niaga TI dibandingkan negara yang pertama tadi.

Di Indonesia, tata-niaga TI, yang kini mungkin lebih dikenal dengan istilah e-Bisnis, belum pernah sebaik ini. Adalah kategori kedua, pengembangan Iptek TI yang justru tertekan karena pengembangan kategori pertama tersebut. Tulisan ini mencoba mengulas kondisi kedua kategori itu, sekaligus memberikan urun-rembug untuk mengembangkannya ke depan.
E-Bisnis

Seorang rekan dengan seuntai gelar dan pengalaman yang meyakinkan tak kunjung surut dari pendapat yang pesimistis akan kelangsungan e-Bisnis. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga secara global. Mulai dari model bisnisnya, proposisi nilainya, sampai kepada tata-niaganya, ia berpendapat bahwa banyak yang kurang benar dalam konsep e-Bisnis. Rontoknya demikian banyak usaha e-Bisnis di seantero dunia, dan miskinnya contoh kasus sukses seolah ikut membenarkan pesimisme ini.

Beberapa kenalan lain ikut berpendapat bahwa e-Bisnis terlalu provokatif, terlalu fantastis, terlalu eksplosif, sehingga terlalu bagus untuk benar-benar nyata (too good to be true). Anjloknya harga begitu banyak saham e-Bisnis di pasar-pasar dunia mendukung pendapat ini. Harian Asian Wall Street Journal beberapa waktu yang lalu di halaman utamanya menurunkan judul berita bahwa “Nasdaq” kini mulai dianggap sinonim dengan kata “anjlok”. Inisiatif-inisiatif usaha yang gagal memang cenderung menguatkan pendapat bahwa e-Bisnis semakin tidak relevan dan sia-sia belaka.

Kenyataannya adalah bahwa e-Bisnis dengan cepat beranjak dewasa. Walaupun masih cukup baur, semakin tampak bahwa tata-niaga dan bentuk mikronya kini lebih realistis. Tidak, e-Bisnis tidak punah. Ia hanyalah menjadi jauh lebih sukar, dan pelaku-pelakunya juga mungkin jauh lebih pintar sekarang. Setelah demikian banyak perusahaan yang bangkrut, dibeli murah oleh perusahaan lain, atau bubar-jalan, tak pelak lagi, banyak pelajaran yang harusnya diperoleh. Dengan menyimak contoh-contoh ini, seharusnyalah kita menjadi semakin bijak.

Ditambah lagi dengan kecenderungan menurunnya anggaran TI pada perusahaan-perusahaan dunia, semakin pesimistislah kondisinya. Secara global, selama tahun 2001 sepertiga dari seluruh perusahaan yang dihubungi majalah Information Week dalam survai IT Confidence Index mereka menyatakan telah membatalkan semua proyek TI baru. Ini berdampak pada tahun-tahun selanjutnya. Sejumlah usaha e-Bisnis yang sebelumnya dianggap menjanjikan, ternyata tidak lebih dari “provokatif” belaka dan praktis sirna setelah perusahaan-perusahaan yang menggelutinya rontok satu-per-satu.

"Teknologi-teknologi berbasis internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses bisnis yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat."

Namun demikian, kurang tepat untuk berpendapat bahwa e-Bisnis punah bersama anjloknya nilai saham internet di pasar-pasar modal dunia dan kondisi-kondisi lainnya yang disebutkan di atas. Ternyata bahwa ada sejumlah niche yang menjanjikan dan “prospektif”. Penyebabnya mendasar sekali: teknologi-teknologi berbasis internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses bisnis yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat. Dalam jangka-pendeknya, manfaatnya langsung terasa dalam bentuk pengurangan biaya usaha, sedangkan dampak jangka-panjangnya diproyeksikan akan berbentuk penambahan pelanggan dan pembeli dan pada waktunya: laba usaha. Daftar di bawah ini menunjukkan sejumlah bidang usaha e-Bisnis yang menjanjikan di tahun 2002 ini. Dalam melakukan kompilasi daftar ini, Penulis mengakses berbagai sumber informasi yang ada dan melakukan analisis

Perlengkapan dan Layanan Jejaring: Mulai dari penjualan routers, load balancers dan switches, sampai kepada penyediaan layanan bandwidth, bidang e-Bisnis ini tetap menjanjikan. Nama-nama besar produsen perlengkapan jejaring diperkirakan tetap akan berkisar di sekitar Cisco, Nortel, FS Networks dan Extreme Networks, walaupun tetap terbuka kemungkinan munculnya nama-nama baru. Di bidang layanan bandwidth, pemain-pemain besar akan merajai pasar, antara lain: Telkom, Indosat, PSN, dan nama-nama internasional seperti Loral, Worldcom, dll. Setelah kapok dengan layanan yang kurang bermutu di tahun-tahun yang lalu, para konsumen akan lebih memilih pemasok yang mengoperasikan atau mempunyai hubungan langsung ke jejaring high-bandwidth internasional. Wanti-wanti bagi bidang e-Bisnis ini adalah: caveat emptor, berhati-hatilah dengan nama-nama yang tidak dapat memberikan layanan jangka-panjang dan mutu yang memadai, walaupun harganya mungkin lebih murah.

Aplikasi Web: Dalam bidang ini sedang terus terjadi perubahan yang patut disimak dengan seksama. Berbagai aplikasi perangkat-lunak yang akan tetap meningkat kebutuhannya termasuk paket-paket untuk web server, application server, enterprise portal, integration dan content management. Aplikasi-aplikasi ini adalah piranti penting dalam mengelola tampilan dan layanan di jejaring, dan karenanya penting sekali bagi banyak pihak. Fungsi-fungsi yang akan meningkat kebutuhannya terutama adalah untuk tayangan, pengumpulan dan pemasukan informasi, otentikasi pengakses dan pelaksanaan transaksi online secara aman dan terkendali. Nama-nama besar masih akan bertahan dalam bidang ini, antara lain: Microsoft, IBM, SAP, di samping nama-nama kompetitif seperti BEA Systems, SeeBeyond, Tibco, WebMethods, Documentum, Interwoven dan Vignette. Mereka yang tertarik untuk merepresentasikan pemasok-pemasok ini di Indonesia perlu memperhatikan wanti-wanti yang umumnya sudah diketahui: merk-merk baru dan kecil mungkin saja dibeli oleh raksasa-raksasa TI dan kelangsungan produknya menjadi tidak menentu.

Outsourcing Providers: Bidang usaha outsourcing atau yang juga dikenal dengan shared facilities akan terus merebak, terutama karena didorong oleh semakin langkanya sumberdaya yang diperlukan untuk merancang, menerapkan dan mengoperasikan layanan TI sendiri. Mulai dari tetap tingginya nilai-tukar US$ sampai semakin mahalnya professional TI yang bermutu, aspek biaya yang diperlukan dalam konteks cost of ownership cenderung terus bergerak naik. Cakupan usaha providers yang diperkirakan akan meningkat termasuk antara lain: one-stop managed services, application services, hosting services, content distribution services dan data storage & management services. Dalam kategori managed services, akan terlihat perkembangan jasa outsourcing untuk call centers, data centers, network control centers dan disaster recovery centers. Sektor industri keuangan, terutama perbankan dan asuransi, akan menjadi pelanggan utama bidang e-Bisnis ini. Sektor-sektor lain kemungkinan akan menyusul, namun tetap akan berkisar di sekitar layanan ritel yang menyediakan jasa bagi orang banyak, termasuk pemerintahan dalam konteks e-Government. Nama-nama besar di bidang usaha ini tetap akan berpengaruh kuat. Pemain lokal yang kuat seperti Sigma Cipta Caraka akan mulai melihat potensi persaingan dari pemain global seperti EDS, Compaq, Microsoft, EMC, Oracle dan IBM. Diperkirakan bahwa one-stop managed services akan cenderung berkembang relatif lebih lambat dari keempat layanan outsourcing lainnya. Ini akan membuka peluang bagi pemain-pemain lokal baru di Indonesia, apalagi bila didukung lebih lanjut dengan perangkat regulasi yang positip.

Aplikasi Bisnis: Dalam kategori ini, empat aplikasi tetap saja merajai, yaitu: supply-chain management, customer-relationship management, procurement dan ERP. Nama-nama pemasok berkaliber internasional seperti SAP, PeopleSoft, JD Edwards, Oracle dan Siebel akan diperkaya dengan nama-nama baru, baik dari luar-negeri maupun dari dalam Indonesia sendiri. Akan semakin banyak software houses lokal yang mampu memberikan solusi dengan harga yang memadai, karena sebenarnya perusahaan-perusahaan pemakai perangkat-lunak ini juga belum memerlukan spektrum modul layanan yang terlalu ekstensif. Aplikasi-aplikasi lainnya yang menjanjikan seperti e-government dan e-learning, tampaknya masih akan terbatas pada sekedar “janji” yang banyak dibahas namun masih kecil sekali nilai bisnisnya.

Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun untuk mengembangkan sektor public domain dalam bidang TI tidak signifikan hasilnya. Padahal, disinilah harapan kita untuk berperan di kandang sendiri.

Capital Gain vs Operating Income: Mitos mengenai pemasukan dari penjualan yang akan segera terealisasi begitu usaha e-Bisnis dibuka sudah semakin dimaklumi. Para pemain e-Bisnis yang terperosok dalam mitos ini sebagian besar menyayangkan bahwa mereka menunggu terlalu lama sebelum menjual usaha mereka. Masalah utamanya adalah bahwa pola provokatif ini hanya dapat dimainkan oleh mereka yang dapat menghindarkan diri dari keterikatan emosional pada usaha e-Bisnis yang mereka rintis. Strategi utamanya adalah: kembangkan proposisi nilai dalam bentuk future income yang dapat diperoleh dari jaringan yang dikembangkan. Aksioma utama disini adalah bahwa the network is the business.

Beberapa bentuk usaha atau layanan lain yang sangat provokatif dan bahkan semakin tampak tidak menghasilkan antara lain adalah: personalization services, transaction engines, ad servers dan caching. Produk-produk yang pernah popular ini ternyata tidak menjanjikan, dan malah cenderung gagal.

Iptek TI
Berbeda dengan kondisi 20 tahun yang lalu, gairah anak-negeri untuk mengembangkan Iptek TI di Indonesia kini nyaris tenggelam dalam kebyar-kebyar maraknya e-Bisnis. Dorongan untuk menciptakan sendiri praktis sirna ditekan oleh kenyataan bahwa “membeli” jauh lebih mudah daripada “membuat sendiri”, apalagi bila piranti-piranti yang tersedia untuk berkreasi ternyata terbatas sekali. Kalaupun ada, piranti-piranti tersebut membatasi lingkup kreasi pada “mengintegrasikan” ketimbang “mencipta” secara utuh. Semakin rumitnya lingkup aplikasi TI justru membuat kategori ini semakin tertekan.

Seorang mahasiswa Ilmu Komputer yang belajar membuat compiler atau sistem operasi sebagai bagian dari kurikulumnya berkomentar ketika kembali ke kampus dari kegiatan Kerja Praktek di industri: „Pak, yang diajarkan disini jarang sekali dipakai di luar lho! Saya jadinya belajar lagi dari nol.”

Tata-niaga TI di Indonesia, yang bersifat sangat aplikatif, tidak akan mendukung pengembangan sisi Iptek-nya. Ini lebih menyangatkan kondisi global yang mengarah pada kenyataan bahwa secara teratur, TI menjadi bagian, dan tenggelam dalam aplikasinya. Sama halnya dengan mikroskop ciptaan van Leeuwenhoek dulu. Di awalnya, ia dipelajari dan dikembangkan dengan getol oleh semua pihak. Secara berangsur, iapun tenggelam menjadi bagian dari aplikasinya di bidang ilmu kedokteran, biologi, dll. Akhirnya, „ilmu mikroskop” kembali menjadi bagian kecil dari Iptek Optika dan jauh lebih dikenal sebagai piranti dalam rantai-nilai yang jauh lebih besar.

Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun untuk mengembangkan sektor public domain dalam bidang TI tidak signifikan hasilnya. Padahal, disinilah harapan kita untuk berperan di kandang sendiri, karena darinya akan berkembang produk Iptek TI yang berarti. Semakin terjeratnya kita dalam invasi intellectual property rights yang dimiliki segelintir perusahaan raksasa dunia tidaklah memperbaiki kondisi ini. Masalahnya lagi, public domain di bidang TI tidak lagi mendukung daur-hidup yang panjang. Sebuah produk yang semula sukses dalam public domain ini, dengan semakin cepat keluar dari kawasan “bebas-pakai” ini dan beralih menjadi proprietary product yang diperjual-belikan.

Karenanya, akan lebih bijak (dan menguntungkan) bila konsentrasi terbesar dalam Iptek TI adalah pada aspek-aspek aplikatif dari teknologi yang berkembang cepat ini. Konsentrasi ini dapat diharapkan akan menghasilkan sejumlah inovasi original yang berskala ekonomis dalam waktu tidak lama lagi. Semoga.•

Tidak ada komentar:

Posting Komentar