Freeze
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar
Jumat, 09 Januari 2009
Software Dan Internet
Teknologi Informasi (TI) berbahasa Indonesia sempat di sentil oleh Gus Dur. Pernyataan Gus Dur sudah basi bagi kami yang memakai sistem operasi Linux. Tanpa di minta beberapa aktifis Linux berjibaku mengembangkan TI berbahasa Indonesia. Mereka terutama di motori I Made Wiryana dan kakaknya Wayan dari Trustix http://www.trustix.co.id. Trustix Merdeka (http://merdeka.trustix.co.id) adalah Linux karya Trustix untuk bangsa Indonesia & berbahasa Indonesia pula. CD Trustix Merdeka dibahas & disebarkan gratis di majalah InfoLinux (http://www.infolinux.co.id) edisi Februari 2001. InfoLinux digerakan oleh komunitas Linux berpemegang saham ~50 orang.
Selain Made & Wayan, banyak aktifis Linux Indonesia yang berkiprah untuk negeri ini, misalnya aktifis yang tergabung di Linux Documentation Project LDP menterjemahkan berbagai naskah & dokumentasi seperti HOWTO ke bahasa Indonesia. Aktifitas Pengguna Linux Indonesia (KPLI) bisa dibaca di http://www.linux.or.id. Team Pandu http://pandu.dhs.org dengan gigih mensosialisasikan Linux berbentuk naskah, tulisan & buku berbahasa Indonesia & di sebarkan gratis. Sebagian besar istilah TI sudah di Indonesia-kan sejak tiga (3) tahun lalu oleh Pusat Bahasa yang berlokasi di sekitar Rawamangun, Jakarta.
Linux menarik bagi WARNET, karena memungkinkan penggunaan komputer tua 286, 386 & 486 sebagai terminal murah tanpa disket & harddisk untuk akses Internet seperti dilakukan Umar@pointer.web.id di Warnet Pointer di Medan. Linux memungkinkan server, peralatan komunikasi tanpa kabel dibuat sendiri di Indonesia seperti dilakukan oleh teman-teman WARNET di Makasar, Medan, Bandung, Malang, Yogya dll.
Linux fenomena luar biasa, seperti desa mengepung kota – kaum lemah, bersatu saling tolong mengembangkan perangkat lunak Linux, semua program (source code) dibuka & di sebarkan secara gratis melepaskan hak ciptanya untuk kepentingan publik sehingga semua orang bisa belajar karena tidak di tutupi, sebuah pengorbanan yang luar biasa. Linux legal digunakan secara gratis, tidak membajak software - predikat memalukan yang melekat di bangsa Indonesia sebagai 10 negara pembajak software terbesar di dunia – tidak perlu di sandang oleh bangsa ini jika Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) di tegakan secara benar oleh aparat, sweeping & bersihkan pembajak software Microsoft. Bagi yang tak mampu membeli Microsoft, Linux yang gratis tidak membajak menjadi alternatif pilihan yang legal, di sertai program terbuka dan berbahasa Indonesia pula.
Akses ke dunia Informasi & Pengetahuan
Akses ke dunia informasi & pengetahuan menjadi rintangan real maupun psychologis. Secara psychologis, banyak guru, kepala sekolah & yayasan memperoleh persepsi bahwa Internet, komputer adalah mahal & merusak ahlak. Banyak guru kurang berminat pada hal baru seperti komputer. Tak terpikirkan hal positif dari benda-benda tersebut, seperti pisau – komputer & Internet bisa bermata dua.
Konsep Warung Internet (WARNET) yang di implementasi di SMK oleh DIKMENJUR (dikmenjur@yahoogroups.com) membuktikan keberhasilan mengintegrasikan 400+ SMK di seluruh Indonesia sebagian secara swadaya masyarakat. Siswa menanggung beban sangat rendah Rp. 1000 /siswa/bulan untuk akses e-mail Internet seperti di SMKN1 Ciamis. Artinya teknologi informasi & akses Internet dapat menjadi fasilitas swadana di sekolah. Investasi fasilitas Rp. 20-50 juta / sekolah bisa kembali dari iuran siswanya sendiri dalam waktu 1-1.5 tahun saja. Pendidikan jarak jauh menjadi mungkin, jaringan 20+ perpustakaan digital telah berkembang oleh Indonesia Digital Library Network http://idln.itb.ac.id & Indonesia CyberLibrary Network i_c_s@yahoogroups.com. Pemerataan pengetahuan, pemenuhan hak asasi manusia untuk berkomunikasi & berperan di dunia informasi seperti di tuangkan dalam TAP MPR XVII/MPR/1998 dipenuhi tanpa perlu berhutang pada Bank Dunia, ADB & IMF.
Dunia pendidikan paling strategis karena masa depan bangsa di tentukan oleh anak bangsa yang pandai bukan yang berotot & berkuasa. Massa orang pandai dan menggunakan Internet pada hari ini hanya 2 juta orang (menurut APJII). Dengan kekuatan 1% saja, Indonesia akan dilibas oleh negara tetangga di era globalisasi. Strategi sederhana harus di galakan, jumlah SMU, SMK, Pesantren, PTS di seluruh Indonesia hanya sekitar 25.000 buah. Dephub POSTEL harus berani mengambil inisiatif kebijakan untuk memaksa mekanisme Universal Service Obligation (USO) untuk mengorbankan 25.000 saluran telepon dari 10 juta total saluran yang ada untuk memandaikan anak bangsa. Di samping, membebaskan frekuensi ISM band 2.4GHz & 5.8GHz. Jika di tunjang kemudahan dari INDAG, Bea Cukai, PMA, Pajak dll. Bukan mustahil lima (5) tahun lagi kita melihat 20 juta (10%) bangsa ini menjadi pandai & harus diperhitungkan oleh masyarakat internasional dalam kompetisi era globalisasi.
Perjuangan di akses Internet terutama akan bertabrakan dengan Telkom & KSO-nya serta pengatur frekuensi di negara ini. KSO Telkom secara semena-mena telah menaikan biaya langganan menerima telepon (dial-in) menjadi Rp. 300.000 / bulan (dari Rp. 30.000 / bulan) bagi ISP di Bali, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra tanpa persetujuan Pemerintah & DPR. Hal ini akan mematikan akses informasi & pengetahuan bagi sebagian bangsa ini.
Konsekuensinya, beberapa rekan di Koperasi Warnet Bandung (KOWABA), Asosiasi Warnet Surabaya, Jogya, Malang & kota lain yang kreatif melalui asosiasi-warnet@yahoogroups.com bahu membahu bekerjasama membangun WARNET Broadband karena sangat sulit & mahal sekali menyewa leased line broadband ISDN maupun DSL 1-2Mbps dari Telkom. KOWABA (kowaba@yahoogroups.com) dimotori aktifis WARNET seperti Aday & Zilmy merupakan contoh sukses keberhasilan implementasi WARNET Broadband (asosiasi-warnet-broadband@yahoogroups.com) tanpa tergantung sama sekali kepada Telkom, beberapa puluh WARNET di Bandung bersatu & bekerjasama menyamakan tarif dan menyewa bandwidth ke Internet 1Mbps 1:1 melalui satelit, kemudian di distribusikan menggunakan peralatan microwave 2.4GHz buatan sendiri. Iuran sebesar Rp. 4-5.5 juta/warnet/bulan sangat murah untuk kecepatan total satu (1) Mbps 1:1 & kompetitif dibandingkan sewa akses 64 Kbps 1:4 melalui Telkom & ISP seharga Rp. 8-10 juta/bulan/warnet. Tunjangan broadband ISP seperti Melesat, PesatNet, 88Direct, TurboNet, Rainbow2u memarakan suasana. WARNET broadband memungkinkan membuat jaringan masyarakat tanpa tergantung sama sekali Telkom maupun utangan Bank Dunia, ADB & IMF. Penghasilan WARNET naik dari rata-rata Rp. 200.000 / hari menjadi sekitar Rp. 1 juta / hari setelah menjadi WARNET broadband, sebab pelanggan mendapat kualitas baik.
Akses microwave 2.4GHz & 5.8GHz ISM band sebagai secondary service menjadi solusi utama akses Internet broadband 2-11Mbps di Indonesia. Di Bandung saja paling tidak ada 100-an WARNET yang menggunakan akses microwave. Sesuai peraturan International Telecommunication Union (ITU) S5 peralatan di 2.4GHz & 5.8GHz tahan interferensi & tidak menghasilkan interferensi di luar band tsb. karena kecil-nya daya. Konsekuensinya, di banyak negara, Peralatan ISM band secondary service dibebaskan dari ijin pada peralatan instrumentasi, kedokteran, sains, kamera digital, handphone, komputer & berbagai peralatan telekomnunikasi data. Peralatan ISM band umumnya di produksi massal dengan teknologi gigi biru (bluetooth) yang murah & berdaya kecil.
Walaupun di banyak negara di bebaskan - tampaknya perjuangan masih panjang bagi rakyat Indonesia, karena bagian pengatur frekuensi di DITJEN POSTEL sedang berusaha untuk mengharuskan ijin bagi penggunaan ISM Band secondary service tsb. Mungkin kurang pemahaman aparat POSTEL akan kondisi lapangan, atau karena permintaan 2.4GHz oleh Telkom seperti diakui D. Amarudien, Vice President Telkom - menyebabkan kebijakan yang kurang berpihak pada masyarakat banyak. Padahal, ISM band merupakan solusi alternatif sebagian besar WARNET, sekolah, institusi dll. yang kesulitan memperoleh saluran Telkom & sering kali mahal. Selain itu, sulit meregulasi produksi massal seperti peralatan ISM band. Sialnya, prosedur birokrasi yang dibuat-buat justru akan menghambat kreatifitas & perkembangan dunia telematika Indonesia sendiri. Akhirnya berdampak mematikan akses bagi masyarakat Indonesia ke dunia informasi & pengetahuan yang pada dasarnya melanggar HAM yang tertera di TAP MPR XVII/MPR/1998. Dalam bahasa religius, untuk membesarkan sebuah bangsa Zakat, Infaq & Shadaqah merupakan bagian integral dari proses pensejahteraan. Alangkah indahnya bila sebagian komoditi bisa di-Infaq-kan untuk mensejahterakan umat.
Fenomena Dotcom
Dengan berkembangnya akses & massa pengguna Internet di Indonesia, memicu perkembangan usaha di atas Internet yang kita kenal sebagai dotcom.
Kehancuran dotcom di awal tahun 2000 menjadi pelajaran bagi banyak dotcommers di dunia. Model bisnis yang baik mengurangi kebakaran modal yang selama ini menjadi ciri banyak dotcommers. Dengan model bisnis yang tepat & baik, beberapa dotcom Indonesia ternyata bisa survive dan terus berkiprah dengan baik. Detik.com dan Kompas.com merupakan contoh sukses bagi banyak dotcommers Indonesia. Media online memang menjadi primadona model dotcommers yang sukses di banyak negara.
Tentunya masih banyak dotcommers yang juga bisa survive di Indonesia dengan fokus usaha yang tajam. Indosatcom www.dagang2000.com bekerjasama dengan www.meetchina.com memfokuskan pada fasilitasi perdagangan elektronik B2B (bukan B2C seperti kebanyakan dotcommers). Pola hybrid antara perdagangan secara real / fisik di satukan dengan dunia cyber menjadikan konvergensi dagang yang sempurna. LippoShop.com berbeda dengan dagang2000.com, mereka memfokuskan lebih kepada B2C dengan start awal captive market Lippo yang sudah ada. Pola hybrid juga dilakukan yang ternyata menunjukan bahwa ~90% transaksi melalui metoda konvensional bukan Internet demikian diakui oleh Parapak salah seorang Komisaris LippoNet. APEC pada saat ini sangat aktif menginternetisasi negara APEC. E-commerce adalah salah satu yang paling gencar dengan adanya APEC High Level Symposium on E-Commerce and Paperless Trading di Beijing 9-10 February 2001.
Komunitas yang fokus menjadi karakter utama model bisnis dotcommers sukses. RadioClick.com bermitra dengan stasiun radio swasta di berbagai kota & menggarap komunitas di radio tsb. Pemberdayaan keberadaan komunitas menjadikan usaha win-win antara dotcommers dengan komunitasnya. Natnit.net menggarap komunitas WARNET di seluruh Indonesia, melalui majalahnya interaksi dilakukan. Data lengkap 1200+ WARNET yang bertambah 4-10 WARNET / hari dapat dilihat di Natnit.net. IndoExchange.com salah satu portal tertua Indonesia contoh sebuah dotcom yang fokus pada masyarakat industri finansial / bursa. Informasi keuangan, berita bisnis, index saham, portfolio berbagai perusahaan menjadi secara transparan sehingga menarik pemain bursa berlangganan ke IndoExchange.com. Bagi para traveller, turis akan sangat terpikat pada BaliOnLine indo.com. Mereka contoh beberapa dotcommers Indonesia yang sukses berkiprah di komunitasnya.
Keberhasilan para dotcommers menarik banyak usaha pendukungnya. Internet Data Center (biz.net.id) membuka peluang untuk menyimpan data dalam jumlah besar dan murah di Internet. Usaha mendata dotcommers dilakukan oleh beberapa portal seperti indopage.com, searchindonesia.com & bluebookdirectory.com.
Keahlian Web programmer & teknisi jaringan Internet amat dicari. Memang kebanyakan ilmu Internet dapat dipelajari sendiri di Internet melalui mailing list, web, manual perangkat lunak. Sialnya, kesempatan itu masih sangat terbatas bagi dua (2) juta orang Indonesia saja. Dukungan berbagai media cetak, seperti Chip, Infokomputer, NeoTek, PCPlus, DotCom, DotNet dll. sangat bermanfaat. Alangkah baiknya inisiatif seperti SMK plus TI (smk-ti@yahoogroups.com) yang di motori DIKMENJUR dapat dikembangkan ke jenjang sekolah lainnya baik SMP & SMU. Sekolah Tinggi Informatika (STMIK dll) tampaknya menjadi tumpuan untuk supply SDM TI. Mereka sering kali lebih siap pakai dibandingkan PTN untuk mensupply kelangkaan tenaga TI yang banyak di isi orang asing khususnya India.
Internet Telepon
Harus kita akui bahwa sebagian besar rakyat Indonesia masih berpendidikan rendah. Dalam kondisi masyarakat demikian, komunikasi verbal (suara) menjadi sangat dominan dibandingkan dengan komunikasi tertulis.
Teknologi Internet telepon (VoIP) di akui dapat mereduksi tarif SLJJ & SLI menjadi 1/8 s/d 1/10 dari tarif telekomunikasi yang ada sekarang. Internet Telepon menjadi solusi alternatif yang sangat menarik bagi sebagian besar rakyat Indonesia yang tidak mampu membayar tarif SLJJ & SLI yang mahal.
Alhamdullillah, tampaknya ada kesepakatan persepsi bahwa Internet Telepon (VoIP) melalui komputer tidak memerlukan ijin. Sedang, jasa VoIP komersial melalui jaringan telepon Telkom tetap harus memohon ijin lisensi dari POSTEL. Yang termasuk dibebaskan dari ijin adalah VoIP melalui komputer yang tersambung ke Internet, komputer di WARNET, komputer di kompleks perkantoran, bahkan jika kreatif dan di kembangkan terus bukan mustahil akan dapat berkembang menjadi internet telepon untuk RT/RW-net, kecamatan dsb. karena teknologi-nya sangat memungkinkan untuk dikembangkan dengan sangat murah dengan investasi US$100/saluran lebih murah dari Telkom yang US$1000/saluran.
Umumnya komputer multimedia dengan soundcard siap untuk internet telepon yang sah & tanpa perlu ijin. Untuk memperbaiki kualitas suara, biasanya ditambahkan peralatan pemroses sinyal (Digital Signal Processing – DSP) berupa kartu antarmuka atau alat tambahan. Kartu / alat tambahan ini berkisar antara US$50-99 per buah. Yang paling murah adalah VoIP blaster dari Creative http://www.creative.com yang dapat dihubungkan ke kanal USB di PC. Review berbagai peralatan VoIP ada di http://www.pulver.com/gateway/.
Akhirnya
Teknologi Informasi (TI) seperti juga teknologi lainya merupakan alat bantu manusia untuk mencapai tujuan. Manusia dengan kekuatan otaknya yang akan menentukan kesejahteraan bangsa ini, pendidikan menjadi kunci utamanya – bukan kekuasaan & kekuatan.
Indonesia Dan Teknologi Informasi
Ada pendapat optimis yang menerawang ke depan seolah nubuatan bahwa industri TI akan marak karena sumberdaya kita yang tumpah-ruah, terutama manusianya, akan mampu mendukung perkembangan yang sustainable. Struktur permodalan dalam tata-niaga negara berkembang dan tatanan hukum serta regulasi yang diperlukan dibahas oleh para panelis, walaupun terbatas.
Pendapat yang lain lebih merupakan wanti-wanti bahwa pemanfaatan TI akan menimbulkan keterbiasaan yang seolah candu akan memagari kita setelah melampaui sejumlah titik-mustahil-balik (points of no-return). Semakin jauh kita terbiasa menggunakan TI, semakin sulit pula untuk kembali ke pola hidup semula yang mungkin lebih sederhana. Pendek kata, pluralisme sosial akan semakin bias ke sisi pola hidup dengan TI sebagai pemberdaya.
Ada pula opini yang menyatakan bahwa TI adalah sebuah teknologi yang ikut memanusiawikan manusia: mendorong hidup kita dari otot ke otak, dari industri mekanistis ke ekonomi informasi, dan dari raga-fisik ke abstraksi-kreatif yang sarat akan nilai-tambah. Ia akan membuat jarak menjadi hilang-makna, dan waktu menjadi nyaris satu-satunya besaran yang dominan setelah massa mulai ikut surut ke latar-belakang karena semakin menjadi kurang penting.
Banyak sudah yang terjadi dalam 2 dasawarsa setelah diskusi panel tersebut. Beberapa prediksi ternyata tidak/belum terjadi, sementara sisanya sudah/telah terpenuhi dengan kadar intensitas yang berbeda. Namun yang penting adalah bahwa TI di Indonesia berkembang menurut 2 kategori besar: sebagai komoditas dalam tata-niaganya dan sebagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Walaupun ada keterkaitannya, kedua kategori tersebut cukup distinct. Tata-niaga TI sebuah negara bisa saja maju sekali, namun tidak ada pengembangan Iptek TI yang berarti yang dihasilkan di negara tersebut. Sebaliknya, mungkin ada negara lain yang rajin sekali mengembangkan Iptek TI akan tetapi kalah dalam aspek pengembangan tata-niaga TI dibandingkan negara yang pertama tadi.
Di Indonesia, tata-niaga TI, yang kini mungkin lebih dikenal dengan istilah e-Bisnis, belum pernah sebaik ini. Adalah kategori kedua, pengembangan Iptek TI yang justru tertekan karena pengembangan kategori pertama tersebut. Tulisan ini mencoba mengulas kondisi kedua kategori itu, sekaligus memberikan urun-rembug untuk mengembangkannya ke depan.
E-Bisnis
Seorang rekan dengan seuntai gelar dan pengalaman yang meyakinkan tak kunjung surut dari pendapat yang pesimistis akan kelangsungan e-Bisnis. Bukan saja di Indonesia, tetapi juga secara global. Mulai dari model bisnisnya, proposisi nilainya, sampai kepada tata-niaganya, ia berpendapat bahwa banyak yang kurang benar dalam konsep e-Bisnis. Rontoknya demikian banyak usaha e-Bisnis di seantero dunia, dan miskinnya contoh kasus sukses seolah ikut membenarkan pesimisme ini.
Beberapa kenalan lain ikut berpendapat bahwa e-Bisnis terlalu provokatif, terlalu fantastis, terlalu eksplosif, sehingga terlalu bagus untuk benar-benar nyata (too good to be true). Anjloknya harga begitu banyak saham e-Bisnis di pasar-pasar dunia mendukung pendapat ini. Harian Asian Wall Street Journal beberapa waktu yang lalu di halaman utamanya menurunkan judul berita bahwa “Nasdaq” kini mulai dianggap sinonim dengan kata “anjlok”. Inisiatif-inisiatif usaha yang gagal memang cenderung menguatkan pendapat bahwa e-Bisnis semakin tidak relevan dan sia-sia belaka.
Kenyataannya adalah bahwa e-Bisnis dengan cepat beranjak dewasa. Walaupun masih cukup baur, semakin tampak bahwa tata-niaga dan bentuk mikronya kini lebih realistis. Tidak, e-Bisnis tidak punah. Ia hanyalah menjadi jauh lebih sukar, dan pelaku-pelakunya juga mungkin jauh lebih pintar sekarang. Setelah demikian banyak perusahaan yang bangkrut, dibeli murah oleh perusahaan lain, atau bubar-jalan, tak pelak lagi, banyak pelajaran yang harusnya diperoleh. Dengan menyimak contoh-contoh ini, seharusnyalah kita menjadi semakin bijak.
Ditambah lagi dengan kecenderungan menurunnya anggaran TI pada perusahaan-perusahaan dunia, semakin pesimistislah kondisinya. Secara global, selama tahun 2001 sepertiga dari seluruh perusahaan yang dihubungi majalah Information Week dalam survai IT Confidence Index mereka menyatakan telah membatalkan semua proyek TI baru. Ini berdampak pada tahun-tahun selanjutnya. Sejumlah usaha e-Bisnis yang sebelumnya dianggap menjanjikan, ternyata tidak lebih dari “provokatif” belaka dan praktis sirna setelah perusahaan-perusahaan yang menggelutinya rontok satu-per-satu.
| "Teknologi-teknologi berbasis internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses bisnis yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat." |
Namun demikian, kurang tepat untuk berpendapat bahwa e-Bisnis punah bersama anjloknya nilai saham internet di pasar-pasar modal dunia dan kondisi-kondisi lainnya yang disebutkan di atas. Ternyata bahwa ada sejumlah niche yang menjanjikan dan “prospektif”. Penyebabnya mendasar sekali: teknologi-teknologi berbasis internet yang ditawarkan ternyata mampu memperbaiki proses-proses bisnis yang sebelumnya sangat mahal dan/atau sangat lambat. Dalam jangka-pendeknya, manfaatnya langsung terasa dalam bentuk pengurangan biaya usaha, sedangkan dampak jangka-panjangnya diproyeksikan akan berbentuk penambahan pelanggan dan pembeli dan pada waktunya: laba usaha. Daftar di bawah ini menunjukkan sejumlah bidang usaha e-Bisnis yang menjanjikan di tahun 2002 ini. Dalam melakukan kompilasi daftar ini, Penulis mengakses berbagai sumber informasi yang ada dan melakukan analisis
Perlengkapan dan Layanan Jejaring: Mulai dari penjualan routers, load balancers dan switches, sampai kepada penyediaan layanan bandwidth, bidang e-Bisnis ini tetap menjanjikan. Nama-nama besar produsen perlengkapan jejaring diperkirakan tetap akan berkisar di sekitar Cisco, Nortel, FS Networks dan Extreme Networks, walaupun tetap terbuka kemungkinan munculnya nama-nama baru. Di bidang layanan bandwidth, pemain-pemain besar akan merajai pasar, antara lain: Telkom, Indosat, PSN, dan nama-nama internasional seperti Loral, Worldcom, dll. Setelah kapok dengan layanan yang kurang bermutu di tahun-tahun yang lalu, para konsumen akan lebih memilih pemasok yang mengoperasikan atau mempunyai hubungan langsung ke jejaring high-bandwidth internasional. Wanti-wanti bagi bidang e-Bisnis ini adalah: caveat emptor, berhati-hatilah dengan nama-nama yang tidak dapat memberikan layanan jangka-panjang dan mutu yang memadai, walaupun harganya mungkin lebih murah.
Aplikasi Web: Dalam bidang ini sedang terus terjadi perubahan yang patut disimak dengan seksama. Berbagai aplikasi perangkat-lunak yang akan tetap meningkat kebutuhannya termasuk paket-paket untuk web server, application server, enterprise portal, integration dan content management. Aplikasi-aplikasi ini adalah piranti penting dalam mengelola tampilan dan layanan di jejaring, dan karenanya penting sekali bagi banyak pihak. Fungsi-fungsi yang akan meningkat kebutuhannya terutama adalah untuk tayangan, pengumpulan dan pemasukan informasi, otentikasi pengakses dan pelaksanaan transaksi online secara aman dan terkendali. Nama-nama besar masih akan bertahan dalam bidang ini, antara lain: Microsoft, IBM, SAP, di samping nama-nama kompetitif seperti BEA Systems, SeeBeyond, Tibco, WebMethods, Documentum, Interwoven dan Vignette. Mereka yang tertarik untuk merepresentasikan pemasok-pemasok ini di Indonesia perlu memperhatikan wanti-wanti yang umumnya sudah diketahui: merk-merk baru dan kecil mungkin saja dibeli oleh raksasa-raksasa TI dan kelangsungan produknya menjadi tidak menentu.
Outsourcing Providers: Bidang usaha outsourcing atau yang juga dikenal dengan shared facilities akan terus merebak, terutama karena didorong oleh semakin langkanya sumberdaya yang diperlukan untuk merancang, menerapkan dan mengoperasikan layanan TI sendiri. Mulai dari tetap tingginya nilai-tukar US$ sampai semakin mahalnya professional TI yang bermutu, aspek biaya yang diperlukan dalam konteks cost of ownership cenderung terus bergerak naik. Cakupan usaha providers yang diperkirakan akan meningkat termasuk antara lain: one-stop managed services, application services, hosting services, content distribution services dan data storage & management services. Dalam kategori managed services, akan terlihat perkembangan jasa outsourcing untuk call centers, data centers, network control centers dan disaster recovery centers. Sektor industri keuangan, terutama perbankan dan asuransi, akan menjadi pelanggan utama bidang e-Bisnis ini. Sektor-sektor lain kemungkinan akan menyusul, namun tetap akan berkisar di sekitar layanan ritel yang menyediakan jasa bagi orang banyak, termasuk pemerintahan dalam konteks e-Government. Nama-nama besar di bidang usaha ini tetap akan berpengaruh kuat. Pemain lokal yang kuat seperti Sigma Cipta Caraka akan mulai melihat potensi persaingan dari pemain global seperti EDS, Compaq, Microsoft, EMC, Oracle dan IBM. Diperkirakan bahwa one-stop managed services akan cenderung berkembang relatif lebih lambat dari keempat layanan outsourcing lainnya. Ini akan membuka peluang bagi pemain-pemain lokal baru di Indonesia, apalagi bila didukung lebih lanjut dengan perangkat regulasi yang positip.
Aplikasi Bisnis: Dalam kategori ini, empat aplikasi tetap saja merajai, yaitu: supply-chain management, customer-relationship management, procurement dan ERP. Nama-nama pemasok berkaliber internasional seperti SAP, PeopleSoft, JD Edwards, Oracle dan Siebel akan diperkaya dengan nama-nama baru, baik dari luar-negeri maupun dari dalam Indonesia sendiri. Akan semakin banyak software houses lokal yang mampu memberikan solusi dengan harga yang memadai, karena sebenarnya perusahaan-perusahaan pemakai perangkat-lunak ini juga belum memerlukan spektrum modul layanan yang terlalu ekstensif. Aplikasi-aplikasi lainnya yang menjanjikan seperti e-government dan e-learning, tampaknya masih akan terbatas pada sekedar “janji” yang banyak dibahas namun masih kecil sekali nilai bisnisnya.
| Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun untuk mengembangkan sektor public domain dalam bidang TI tidak signifikan hasilnya. Padahal, disinilah harapan kita untuk berperan di kandang sendiri. |
Capital Gain vs Operating Income: Mitos mengenai pemasukan dari penjualan yang akan segera terealisasi begitu usaha e-Bisnis dibuka sudah semakin dimaklumi. Para pemain e-Bisnis yang terperosok dalam mitos ini sebagian besar menyayangkan bahwa mereka menunggu terlalu lama sebelum menjual usaha mereka. Masalah utamanya adalah bahwa pola provokatif ini hanya dapat dimainkan oleh mereka yang dapat menghindarkan diri dari keterikatan emosional pada usaha e-Bisnis yang mereka rintis. Strategi utamanya adalah: kembangkan proposisi nilai dalam bentuk future income yang dapat diperoleh dari jaringan yang dikembangkan. Aksioma utama disini adalah bahwa the network is the business.
Beberapa bentuk usaha atau layanan lain yang sangat provokatif dan bahkan semakin tampak tidak menghasilkan antara lain adalah: personalization services, transaction engines, ad servers dan caching. Produk-produk yang pernah popular ini ternyata tidak menjanjikan, dan malah cenderung gagal.
Iptek TI
Berbeda dengan kondisi 20 tahun yang lalu, gairah anak-negeri untuk mengembangkan Iptek TI di Indonesia kini nyaris tenggelam dalam kebyar-kebyar maraknya e-Bisnis. Dorongan untuk menciptakan sendiri praktis sirna ditekan oleh kenyataan bahwa “membeli” jauh lebih mudah daripada “membuat sendiri”, apalagi bila piranti-piranti yang tersedia untuk berkreasi ternyata terbatas sekali. Kalaupun ada, piranti-piranti tersebut membatasi lingkup kreasi pada “mengintegrasikan” ketimbang “mencipta” secara utuh. Semakin rumitnya lingkup aplikasi TI justru membuat kategori ini semakin tertekan.
Seorang mahasiswa Ilmu Komputer yang belajar membuat compiler atau sistem operasi sebagai bagian dari kurikulumnya berkomentar ketika kembali ke kampus dari kegiatan Kerja Praktek di industri: „Pak, yang diajarkan disini jarang sekali dipakai di luar lho! Saya jadinya belajar lagi dari nol.”
Tata-niaga TI di Indonesia, yang bersifat sangat aplikatif, tidak akan mendukung pengembangan sisi Iptek-nya. Ini lebih menyangatkan kondisi global yang mengarah pada kenyataan bahwa secara teratur, TI menjadi bagian, dan tenggelam dalam aplikasinya. Sama halnya dengan mikroskop ciptaan van Leeuwenhoek dulu. Di awalnya, ia dipelajari dan dikembangkan dengan getol oleh semua pihak. Secara berangsur, iapun tenggelam menjadi bagian dari aplikasinya di bidang ilmu kedokteran, biologi, dll. Akhirnya, „ilmu mikroskop” kembali menjadi bagian kecil dari Iptek Optika dan jauh lebih dikenal sebagai piranti dalam rantai-nilai yang jauh lebih besar.
Upaya yang sudah lebih dari 20 tahun untuk mengembangkan sektor public domain dalam bidang TI tidak signifikan hasilnya. Padahal, disinilah harapan kita untuk berperan di kandang sendiri, karena darinya akan berkembang produk Iptek TI yang berarti. Semakin terjeratnya kita dalam invasi intellectual property rights yang dimiliki segelintir perusahaan raksasa dunia tidaklah memperbaiki kondisi ini. Masalahnya lagi, public domain di bidang TI tidak lagi mendukung daur-hidup yang panjang. Sebuah produk yang semula sukses dalam public domain ini, dengan semakin cepat keluar dari kawasan “bebas-pakai” ini dan beralih menjadi proprietary product yang diperjual-belikan.
Karenanya, akan lebih bijak (dan menguntungkan) bila konsentrasi terbesar dalam Iptek TI adalah pada aspek-aspek aplikatif dari teknologi yang berkembang cepat ini. Konsentrasi ini dapat diharapkan akan menghasilkan sejumlah inovasi original yang berskala ekonomis dalam waktu tidak lama lagi. Semoga.•
Kumpulan Kata-kata Bijak
Jauhilah dengki, karena dengki memakan amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.
Nabi Muhammad SAW
Yang terbaik di antara kalian adalah mereka yang berakhlak paling mulia.
Nabi Muhammad SAW
Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar.
Khalifah ‘Umar
Setiap orang di dunia ini adalah seorang tamu, dan uangnya adalah pinjaman. Tamu itu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan pinjaman itu haruslah dikembalikan.
Ibnu Mas’ud
Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak.
Khalifah ‘Ali
Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.
Imam An Nawawi
Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.
Khalifah ‘Umar
Pengetahuan tidaklah cukup; kita harus mengamalkannya. Niat tidaklah cukup; kita harus melakukannya.
Johann Wolfgang von Goethe
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.
Johann Wolfgang von Goethe
Kearifan ditemukan hanya dalam kebenaran.
Johann Wolfgang von Goethe
Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah pincang.
Einstein
Perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian.
Einstein
Agama sejati adalah hidup yang sesungguhnya; hidup dengan seluruh jiwa seseorang, dengan seluruh kebaikan dan kebajikan seseorang.
Einstein
Dua hal yang membangkitkan ketakjuban saya - langit bertaburkan bintang di atas dan alam semesta yang penuh hikmah di dalamnya.
Einstein
Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan “rendah hati.”
Einstein
Sungguh sedikit mereka yang melihat dengan mata mereka sendiri dan merasakan dengan hati mereka sendiri.
Einstein
Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.
Einstein
Tidak semua yang dapat menghitung dapat dihitung, dan tidak semua yang dapat dihitung dapat menghitung.
Einstein
SAVE THE PALESTINA

Korban pembantaian Israel di Jalur Gaza terus bertambah. Rumah-rumah warga, masjid dan fasilitas umum menjadi target bombardemen Israel. Hingga hari ketujuh serangan Israel di Gaza City, korban jiwa telah mencapai 420 orang sedangkan korban luka mencapai 2.100. Namun, tak kurang dari 300 orang berada dalam titik kritis.
Menteri Kesehatan Palestina Dr. Baseem Naeem sebelumnya telah menegaskan bahwa korban pembantaian terbuka yang dilakukan Zionis Israel di Jalur Gaza sejak hari Sabtu (27/12), terus bertambah banyak. Terlebih ada ratusan korban luka yang dalam kondisi kritis dan puluhan lainnya masih di bawah puing-puing reruntuhan.
Krisis Medis
Naeen menegaskan persediaan obat-obatan dan kebutuhan medis lainnya sangat kurang untuk menghadapi kondisi darurat ini. Dia mengungkapkan ada 105 jenis obat-obatan utama yang stoknya nol, 225 kebutuhan medis lainnya stoknya juga nol. Sementara itu 93 bahan khusus laboratoriam stoknya juga nol.
Dalam konferensi pers, Ahad (28/12) malam, Naeem mengatakan 50% mobil ambulan tidak bisa beroperasi karena tidak ada gas dan bahan bakar akibat blockade. Saat ini juga sangat dibutuhkan pembangkit listrik. Naeem menegaskan semua itu sudah terjadi sejak sebelum pembantaian yang dimulai Israel Sabtu lalu dan akibat blokade Israel. Dia mengatakan, “Agresi terjadi di tengah-tengah sikap diam Arab yang membunuh dan persekongkolan dunia.” (muslimdaily.net)